Langsung ke konten utama

PERMAINAN KARTU SEBAGAI ALTERNATIF MENGUSIR KEBOSANAN DITENGAH SEKOLAH DI RUMAH



Rafif sedang bermain salah satu permainan kartu Pokémon bersama Masnya pada hari Kamis (18/6) malam.

SEMARANG—Pemerintah telah menetapkan aturan baru, dimana tiap pelajar mulai dari taman kanak-kanak hingga jenjang perguruan tinggi diwajibkan untuk melakukan kegiatan belajar mengajar dari rumah masing-masing. Waktu luang yang banyak seringkali dihabiskan untuk bermain gawai masing-masing. Bukannya menghilangkan kebosanan, yang ada rasa malas semakin bertambah akibat penggunaan gawai yang berlebih.

Untuk mengatasi hal tersebut, Rafif, salah satu murid SD Tlogosari Wetan 02 mempunyai cara lain selain menghabiskan waktu dengan bermain gawai. Murid kelas 6 ini memutuskan untuk beralih ke permainan yang tidak harus menggunakan gawai, salah satunya adalah permainan kartu Pokémon Trading Card Game (TCG).

Ia menuturkan, bermain permainan kartu Pokémon ini rupanya cukup menyenangkan. “Bisa satu jam lebih baru selesai,” ucapnya ketika diwawancarai pada hari Kamis (18/6) malam.

Rafif sendiri mengaku memilih bermain permainan selain dari gawai karena sudah cukup bosan dengan isi dari gawai tersebut. “(Sudah) bosan. Apalagi mata juga jadi pegal karena kelamaan bermain. Belum jaringan yang lemot membuat malas bermain.”

Selain bermain permainan kartu, ada beberapa permainan lain yang Rafif mainkan, tentunya tanpa perlu koneksi internet. Permainan tersebut seperti permainan kartu Uno, uno stacko, sepak bola, dan juga bermain dengan kucing peliharannya.

“Biasanya saya bermain dengan Mas saya yang pertama.” Jelasnya yang saat itu baru saja kalah dari Masnya dalam permainan kartu Pokémon TCG.

Ada banyak manfaat rupanya yang bisa didapat dari permainan secara offline ini selain untuk menghilangkan rasa bosan. Manfaat tersebut seperti mendorong otak untuk berpikir agar dapat memenangkan permainan.

“Jadi, kita harus tahu mau kartu apa yang dikeluarkan, mana yang dibuat menyerang, dan mana yang harus dibuang ke trash.”

Selain itu, permainan dengan tatap muka ini juga bisa membangun interaksi langsung dengan orang di rumah, sekaligus mempererat hubungan.

“Biar makin akrab, Mas,” tuturnya.

Rafif juga sering bermain permainan kartu domino yang tentunya juga mengasah otak untuk kartu apa yang harus dikeluarkan terlebih dahulu dan kartu apa yang harus ditahan. Untuk menang dan kalah sendiri sudah sering Rafif rasakan. “Itu membuat malah semakin menantang. Walaupun kadang agak dibuat kesal karena sering kalahnya.”

Ketika sore tiba, biasanya waktu dihabiskan Rafif dengan bermain sepak bola di teras belakang. Permainan yang sering dimainkan yaitu sekali mencetak gol maka gantian menjadi kipernya. Kadang bermain selaam satu jam lalu dilanjut mandi. Kadang juga bermain hingga azan magrib berkumandang.

Rafif sendiri mengaku belum memiliki gawai pribadi di usianya saat ini. Padahal, mungkin saja teman-teman seumurannya telah memiliki gawai pribadinya masing-masing.

“Takut kecanduan, Mas. Saya lebih memilih bergantian main HP dengan Mas saya saja, hehehe. Walaupun kadang suka terganggu sih pas lagi asik-asiknya.”

Bermain gawai memang menyenangkan. Tetapi penggunaan yang berlebih bisa menyebabkan kecanduan yang kedepannya akan berdampak buruk. Untuk itu, perlu penyeimbangan antara bermain gawai dan interaksi dengan orang sekitar. Juga tidak lupa berolahraga agar badan tetap fit meskipun berdiam diri di rumah.

(Raihan Atha N. W.)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saksi Sejarah yang Tersembunyi

Kamis (18/06/2020)      Meriam Jepang Markoni Rahmat Julian Balikpapan, sebuah kota di Kalimantan Timur, sebuah kota minyak, yang merupakan salah satu kota yang menyimpan sejarah, mulai dari sumur Mathilda hingga Meriam jepang peninggalan perang dunia kedua. Namun, ada lagi situs peninggalan sejarah yang mungkin banyak orang belum mengetahuinya, yaitu Meriam Jepang Markoni yang terletak di Gg. Dolog, Damai, Kecamatan Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, kodepos 76114 . Meriam yang berukuran sekitar kurang lebih 9 meter ini ditemukan pada tahun 2010. Menurut pengakuan Rahmat Julian, Jurpel (juru pelihara) Meriam jepang tersebut, dahulu Meriam ini ditemukan oleh (Bahtiar) pada tahun 2010, dan saat ditemukan meriam tersebut hanya terlihat moncongnya, lalu digalilah benda tersebut lalu terkuaklah bahwa itu adalah sebuah Meriam. Menurut Rahmat pula Meriam ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1945 saat jepang berhadapan dengan sek...